Bupati Klaten Nggak lagi Kampanye Kok, Tapi Memang Nggak Tahu Aja

3 min read

Permasalahan politisi dari dulu tetap sama, tidak paham konsekuensi tindakannya dan gagap dengan kondisi sosial. Bupati Klaten adalah contoh sahih dalam hal ini.

Pemilihan kepala daerah memang tinggal menunggu waktu. Mulai banyak kandidat kepala daerah yang mulai menebar pesona dan menebar “ranjau”. Spanduk-spanduk mulai bertebaran dan para calon mulai bermanis muka mengunjungi para calon pemilihnya, berharap aksi mereka sanggup menuntun tangan para pemilih untuk mencoblos dirinya.

Seakan tak mau ketinggalan dalam perlombaan pencitraan kepala daerah, Bupati Klaten mengirimkan karangan bunga ke faskes yang ada di Clayton, eh maaf, Klaten, yang berisi ucapan semangat untuk para tenaga medis yang bekerja. Tentu saja dengan foto dirinya yang mengepalkan tangan sembari tersenyum optimis. Apa yang kau harapkan dari boomer yang gagap dengan perkembangan jaman? Ngilangin foto mereka? Oo, Tidak semudah itu, Marwoto.

Tak cukup di situ, aksi Ibu Bupati yang kebetulan namanya Sri Mulyani itu juga berlanjut dengan membagi-bagikan masker ke masyarakat dengan terjun langsung. Dahsyat betul. Terjun langsung, sodara-sodara.

Niat (baik) Bupati Klaten tersebut tentu saja menuai kritikan dari banyak orang. Di masa genting seperti ini, Bupati tersebut justru terkesan sibuk mengkampanyekan diri dan tidak peka terhadap keadaan sosial. Membagi-bagikan masker dengan berkeliling tentu saja riskan. Kegiatan tersebut punya potensi besar sebagai instrumen penyebaran virus corona. Saya tahu bahwa jaman dulu kemungkinan Klaten penuh dengan pendekar ampuh yang kebal bacok, tapi nggak sekali pun saya dengar ada pendekar kebal virus.

Sebagai Bupati, yang harus dia lakukan adalah memastikan pasokan obat, alat medis, dan kelengkapan lain harus terpenuhi. Kalau cuma karangan bunga, malah kesannya horor.

Tapi yang perlu diperhatikan adalah kritikan tentang sempat-sempatnya berkampanye di tengah-tengah kesedihan yang dirasakan semua orang. Tentu ini adalah backlash yang diterima secara tidak terduga. Niatnya menyemangati, malah dicurigai.

Masa jabatan Bupati yang sebentar lagi berakhir memang membuat orang curiga dengan niatan Sri Mulyani tersebut. Di masa di mana tindakan nyata lebih diperlukan, dia sibuk mencitrakan diri. Tapi bagaimana kalau memang sebenarnya niatan Sri Mulyani benar-benar tulus, hanya dia nggak tahu komunikasi yang pas?

Begini. Pattern pejabat kalau mengkampanyekan programnya dari dulu selalu sama. Spanduk/banner/baliho yang besar, dengan foto dirinya tersenyum, lalu berisi program yang tulisannya kecil-kecil dan susah dibaca. Pola yang tidak berubah bisa jadi membuat para pejabat wannabe dan yang sedang menjabat berpikir bahwa itu satu-satunya cara yang efektif.

Saya justru jadi kasian sama Bupati Klaten tersebut. Saya yakin sih daripada menyewa tim PR dan juga desainer yang bagus, mending anggaran masuk kantong pribadi. Tapi kalau jadinya dihujat seperti ini, mending keluar duit sekalian. Dia juga udah kaya ini, duit bukan masalah my lov. Dengan keadaan seperti ini, harusnya kita justru kasian sama bu Sri Mulyani.

Bayangkan saja hidup di lingkaran kekuasaan selama dua dekade, tapi nggak tahu cara memasarkan program dan diri secara bagus. Saya jadi curiga orang-orang yang mengusulkan ide ini ke Bupati tersebut sama-sama nggak tahu. Tapi kalau sudah Bupati sendiri yang kepikiran, ampus bon.

Daripada kalian ini mencaci bu Sri Mulyani, mending kalian bantu dia dengan strategi kampanye program yang jos. Kampanye program lho, bukan membantu dia memperkuat dinasti politik. Sumbangsih rakyat juga diperlukan, Bosku. Kita sebagai rakyat kan tugasnya ikut mengingatkan wakil rakyat kalau mulai belok nggak karuan.

Lagian kalian nggak bangga apa punya Bupati seampuh Sri Mulyani, punya keberanian turun ke kerumunan bagi-bagi masker? Hambok yakin, kalau skena hardcore apa punk di Klaten ngadain acara terus mengundang Sri Mulyani, dia pasti ikut moshing. Bukan mustahil pula beliau bisa mengubah namanya menjadi Moshpit Mulyani.

Buat para warga Klaten, sebaiknya kalian mulai mengambil seluruh karangan bunga dan datang ke kantor Sri Mulyani. Kasih data faskes mana yang kekurangan tenaga dan perlengkapan medis. Awasi betul, lalu kalau sudah dilaksanakan, minta Sri Mulyani untuk membuat infografis data bantuan yang sudah disalurkan. Kalau nggak bisa, minta tolong sama ilustrator Mojok, hasilnya pasti yahud.

Kok malah warganya yang repot? Ya Bupati mampunya cuma segitu, mau bagaimana lagi?

Sumber: Mojok

(Visited 2 times, 1 visits today)
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *